Sabtu, 17 Oktober 2020

REVIEW BUKU STARDUST NEIL GAIMAN: DONGENG PENGANTAR TIDUR ORANG DEWASA


 

 

Judul: Stardust Serbuk Bintang

Penulis: Neil Gaiman

Alih bahasa: Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardianto

Desain dan ilustrasi sampul: Satya Utama Jadi

Cetakan ketiga: November 2007

256 hlm; 20 cm

ISBN-10: 979-22-2688-5

ISBN-13: 978-979-22-2688-1

 


Mari kita berbicara tentang dongeng. Sebuah kisah dunia peri yang memikat hati anak kecil yang polos. Ya, dongeng biasanya diperuntukkan bagi anak kecil tetapi di buku ini jelas-jelas tertulis -Ini dongeng untuk orang dewasa-

 

Apa perbedaan dongeng dan fantasi? Saya kira keduanya sama. Hanya saja istilah dongeng memang lebih ditujukan bagi mereka yang percaya--tentu saja biasanya anak-anak yang mempercayai segala yang ada di dongeng--sementara fantasi lebih terkesan logis. Atau memang orang dewasa menciptakan istilah itu agar mereka terdengar lebih baik dari anak kecil yang mempercayai peri.

 

Baiklah. Lupakan soal dongeng dan fantasi. Saya tidak membedakan keduanya.

 

Stardust adalah dongeng bagi orang dewasa. Bukan karena kontennya yang eksplisit. Tentu saja. Secuil adegan eksplisit memang ada tetapi percayalah bahwa bukan karena hal ini mereka menyebutnya dongeng  untuk dewasa. Hilangkan saja bagian itu, maka kisah ini juga bisa jadi pengantar tidur bagi anak-anak kita.

 

Kisah berpusat pada seorang manusia--setengah manusia, tepatnya, karena ia juga keturunan salah satu makhluk dari negeri peri--bernama Tristran Thorn yang karena saking bucinnya, ia rela untuk melakukan apa saja demi gadis pujaannya. Tristran mengucapkan janji yang membawanya pada petualanagan di negeri ajaib tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

 

Gaya bercerita Gaiman di sini menurut saya biasa saja. Hal yang membuat saya tertarik untuk terus mengikuti alur cerita Stardust adalah hal-hal apa yang kira-kira bakal terjadi pada Tristran. Gaiman menyusun plotnya dengan apik. Menyebar potongan teka-teki dengan--seolah-olah--acak kemudian mulai menghubungkan satu dengan lainnya. Dia menyembunyikan potongan puzzle terakhir dengan sangat baik.

 

Tidak ada cerita-cerita yang teramat menarik atau sebuah adegan yang hanya dapat kalian temukan di sini. Stardust benar-benar merupakan sebuah dongeng. Kata-kata sederhana dan setiap orang tidak akan sulit untuk menceritakan kembali dongeng ini pada orang lain.

 

Sekali lagi yang patut dipuji dari Stardust adalah cerita itu sendiri, bukan gaya bahasa, ciri khas penulis atau apa pun. Kalau pun ada, saya harus mengacungkan jempol pada kemampuan Gaiman menyusun alur sehingga plotnya tidak membosankan.

 

Secara keseluruhan, buku ini saya rekomendasikan untuk kalian yang tidak kuat membaca novel-novel high fantasy. Stardust bisa mengubah pemikiran kalian tentang fantasi.

 

Oh, hampir lupa. Novel ini berakhir bahagia seperti cerita fairy tale ala Disney. Kecuali di halaman terakhirnya.