Minggu, 20 September 2020

Review Novel: The Dry Kemarau Karya Jane Harper

 Judul: The Dry

Penulis: Jane Harper

Alih bahasa: Dharmawati

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama 

ISBN: 978-602-03-7624-0 (Digital) 





Buku The Dry atau yang dialihbahasakan menjadi Kemarau ini adalah  buku mistery crime pertama yang saya pinjam di ipusnas. Biasanya saya pinjam fantasy--tidak merasa cocok dengan kehidupan dunia nyata xD. 


Mengisahkan misteri kematian keluarga Hadler yang dibayangi kematian Eleanor Deacon dua puluh tahun silam. Falk terpaksa kembali dan tinggal di kota kecil yang tidak menyukainya. 


Ceritanya menarik dengan twist-twist manis di akhir. Namun, bagian-bagian awal sangat terasa sekali temponya lambat. Bisa dimengerti karena itu untuk membangun suasana curiga-curigaan antar tokoh serta pembaca. Tapi tetap saja rasanya ingin melompat ke bagian selanjutnya rasanya. 


Tokoh-tokohnya misterius. Semua orang punya rahasia. Bahkan pembaca bisa dibuat menuduh si pemeran utama sebagai pelakunya. 


Bagian serunya kita harus menebak siapa dan motif apa yang menyebabkan semua peristiwa menghebohkan itu. Apakah Jamie Sullivan yang bersama Luke setengah jam sebelum kematiannya? Ataukah Grant Dow dan Mal Deacon yang bermusuhan dengan Luke dari dulu? Atau si kepsek yang punya hubungan dengan Karen? Keluarkan saja semua spekulasi itu! 


Minus lain adalah penggambaran kekeringan yang kurang terasa. Entah karena ini berlatar di luar negeri jadi kekeringan di sana hanya sebatas sungai mengering dan ladang tak bisa panen. Maksud saya, di kehidupan sehari-hari sepertinya mereka tidak kesulitan air. 


Buku ini layak untuk dibaca ketika santai sambil minum bajigur dan ubi rebus/ bakar di teras atau serambi rumah. 

Selasa, 15 September 2020

Review Novel: Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan

 Judul: Lelaki Harimau

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

EISBN: 978-602-06-1007-8

Cetakan ketiga (cover baru, 2015)





Buku kedua dari Eka Kurniawan yang saya baca. Tidak jauh beda dari Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau juga diceritakan dengan gaya telling yang kentara. Diawali dengan sebuah kejadian yang menggegerkan kampung, bahkan kota. 


Misteri diceritakan seolah mengulur waktu tetapi tetap saja membuat saya tidak ingin meninggalkan kata demi kata. Eka berhasil menyembunyikan jawaban yang dinanti pembaca hingga akhir. Membiarkan para pembaca menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi hingga akhir pula. 


Alurnya yang maju mundur seperti tanpa peringatan. Kita akan terus membaca dan tanpa sadar berada di masa lalu para tokoh kemudian terhempas kembali ke masa kini mereka. Bagi saya perpindahan waktunya mulus sekali, seolah naik pesawat tanpa jetlag


Gaya bercerita khas Eka juga terlihat di sini. Dimana para pembaca digiring perlahan untuk mengetahui seluk beluk tokohnya yang tidak pernah baik atau buruk. Eka selalu menggambarkan tokohnya sebagai manusia yang buruk, lain waktu ia menjelaskan kebaikan mereka. Pembaca mungkin akan pusing akan berpihak pada siapa—saya akhirnya memutuskan untuk tak berpihak dan menikmati saja jalan cerita mereka. Penggambaran tokoh yang abu-abu justru membuat pembaca maklum dengan tingkah polah para tokohnya. 


Ah, iya, buku-buku Eka Kurniawan selalu mengandung explicit content sepertinya. Jadi, saya ingatkan pada pembaca yang belum cukup umur—sebenarnya bukan umur, tetapi dewasa. Umur tidak menjamin kedewasaan seseorang—agar tidak membacanya. 


Seluruh buku Lelaki Harimau adalah jawaban lengkap dari sebuah pertanyaan, "Kenapa Margio membunuh Anwar Sadat dengan menggigit lehernya?" Jawaban sederhananya telah diungkap oleh si judul. Namun percayalah, tidak sesederhana itu. 


Buku ini—seperti Cantik Itu Luka—hanya membutuhkan tiga hari untuk melahapnya. Namun, jika saya pupun waktu lebih saya rasa bisa menghabiskannya semalam saja.