Selasa, 15 September 2020

Review Novel: Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan

 Judul: Lelaki Harimau

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

EISBN: 978-602-06-1007-8

Cetakan ketiga (cover baru, 2015)





Buku kedua dari Eka Kurniawan yang saya baca. Tidak jauh beda dari Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau juga diceritakan dengan gaya telling yang kentara. Diawali dengan sebuah kejadian yang menggegerkan kampung, bahkan kota. 


Misteri diceritakan seolah mengulur waktu tetapi tetap saja membuat saya tidak ingin meninggalkan kata demi kata. Eka berhasil menyembunyikan jawaban yang dinanti pembaca hingga akhir. Membiarkan para pembaca menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi hingga akhir pula. 


Alurnya yang maju mundur seperti tanpa peringatan. Kita akan terus membaca dan tanpa sadar berada di masa lalu para tokoh kemudian terhempas kembali ke masa kini mereka. Bagi saya perpindahan waktunya mulus sekali, seolah naik pesawat tanpa jetlag


Gaya bercerita khas Eka juga terlihat di sini. Dimana para pembaca digiring perlahan untuk mengetahui seluk beluk tokohnya yang tidak pernah baik atau buruk. Eka selalu menggambarkan tokohnya sebagai manusia yang buruk, lain waktu ia menjelaskan kebaikan mereka. Pembaca mungkin akan pusing akan berpihak pada siapa—saya akhirnya memutuskan untuk tak berpihak dan menikmati saja jalan cerita mereka. Penggambaran tokoh yang abu-abu justru membuat pembaca maklum dengan tingkah polah para tokohnya. 


Ah, iya, buku-buku Eka Kurniawan selalu mengandung explicit content sepertinya. Jadi, saya ingatkan pada pembaca yang belum cukup umur—sebenarnya bukan umur, tetapi dewasa. Umur tidak menjamin kedewasaan seseorang—agar tidak membacanya. 


Seluruh buku Lelaki Harimau adalah jawaban lengkap dari sebuah pertanyaan, "Kenapa Margio membunuh Anwar Sadat dengan menggigit lehernya?" Jawaban sederhananya telah diungkap oleh si judul. Namun percayalah, tidak sesederhana itu. 


Buku ini—seperti Cantik Itu Luka—hanya membutuhkan tiga hari untuk melahapnya. Namun, jika saya pupun waktu lebih saya rasa bisa menghabiskannya semalam saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar