Minggu, 16 Agustus 2020

Review Buku Ni Rawit, Ceti Penjual Orang: Fiksi Sejarah Bali yang Memikat Hati

 

Judul: Ni Rawit, Ceti Penjual Orang 

Penulis: Anak Agung Pandji Tisna

Penerbit: Pustaka Jaya

Tahun terbit: 2019 (edisi elektronik) 

Jumlah halaman: 260 halaman

ISBN: 978-623-221-452-1(PDF)


Ini adalah sebuah kisah fiksi sejarah yang terjadi di Bali. Seorang mucikari yang hendak menjual seorang gadis pada seorang kaya agar ia mendapat untung. 


Buku ini dapat dibagi menjadi dua konflik besar. Pertama adalah masalah Ida Wayan Ompog yang hendak mendapatkan sepupunya, I Dayu Kenderan dengan beragam cara, bahkan cara yang tidak halal. Kedua adalah masalah Ni Rawit yang ingin membalaskan dendam pada Ni Anis. Kedua konflik itu benar-benar memiliki pusat cerita pada tokoh yang berbeda tetapi tetap memiliki benang merah. 


Adat Bali terasa sangat kental. Apalagi diceritakan para tokohnya sering membaca kitab-kitab—terutama di sini dibahas Arjuna Wiwaha—dalam bahasa Kawi dan menerjemahkannya. Setting cerita ini adalah tahun 1800-an, menandakan kalau bahasa Kawi lebih kuno dari itu. Kita dapat belajar sedikit bahasa Kawi dari buku ini. 


Akhir dari cerita ini tidak terlalu istimewa, tetapi seluruh ceritanya berkesan. Anak Agung Pandji Tisna membuat para tokohnya begitu manusiawi. Bisa khilaf tetapi juga bisa menjadi baik kembali, membuat para karakternya lebih bisa diterima secara lapang dada—bahwa memang manusia seperti itu, sebentar baik tetapi esok khilaf dan sebaliknya. 


Selain itu, membaca buku ini menyadarkan saya kalau budaya Sunda lebih dekat dengan budaya Bali ketimbang Jawa sehingga saya penasaran apa yang membuat hal ini terjadi. Apakah ini karena perang bubat atau ada faktor lain. Hmmm, menarik. Ini yang saya sukai dari fiksi sejarah. Membuat kita penasaran dengan apa yang sebenarnya saat itu terjadi. 


Sampai di sini dulu ulasannya. Sampai jumpa di review buku selanjutnya. 

Minggu, 09 Agustus 2020

Review Novel Katarsis: Insan-Insan yang Sakit Jiwa

 


Judul: Katarsis

 

Penulis: Anastasia Aemilia

 

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama 

 

Jumlah halaman: 264 halaman

 

ISBN: 978-602-03-5575-7 eISBN

 


Trauma adalah hal yang bisa menyebabkan manusia memiliki penyakit yang hanya dirinya sendiri yang bisa mengerti. 
Menceritakan seorang yang berbeda, kemudian memiliki kesenangan dengan darah. Adalah Tara, seorang pelaku sekaligus korban kekejian yang bisa diperbuat manusia. Ia sedang memulihkan diri ketika kasus pembunuhan berantai terjadi kembali setelah beberapa puluh tahun.

 


Katarsis menyajikan teror yang tidak ditutup-tutupi. Dengan beberapa sudut pandang yang berganti, jangan harap ada misteri yang akan membuatmu penasaran. Semua disajikan dengan alur cerita yang tidak berbelit, sangat mudah dimengerti. 

 


Namun, kengeriannya terasa dari halaman ke halaman. Apalagi halaman awal. Jujur, pembunuhan keluarga Johandi adalah puncak kengerian dari peristiwa sepanjang cerita. Kita akan memohon agar peristiwa keji itu cepat berlalu tetapi tak rela meninggalkan halaman buku. 

 


Menuju tengah cerita, kita bisa bernapas lega. Tensinya turun. Kemudian akan naik lagi ketika konklusi dibadirkan. 

 


Sayangnya, adegan pamungkas kalah ngeri dengan adegan awal—peristiwa pembunuhan keluarga Johandi—sehingga klimaks kurang terasa.
Psychology thriller ini cukup menghibur untuk para pecinta thriller karena adegan kekerasannya akan membuat kita sedikit pusing membayangkannya. Yep, Anastasia berhasil menggambarkan adegan kengerian dengan tensi yang cukup tinggi.