Judul: Ni Rawit, Ceti Penjual Orang
Penulis: Anak Agung Pandji Tisna
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun terbit: 2019 (edisi elektronik)
Jumlah halaman: 260 halaman
ISBN: 978-623-221-452-1(PDF)
Ini adalah sebuah kisah fiksi sejarah yang terjadi di Bali. Seorang mucikari yang hendak menjual seorang gadis pada seorang kaya agar ia mendapat untung.
Buku ini dapat dibagi menjadi dua konflik besar. Pertama adalah masalah Ida Wayan Ompog yang hendak mendapatkan sepupunya, I Dayu Kenderan dengan beragam cara, bahkan cara yang tidak halal. Kedua adalah masalah Ni Rawit yang ingin membalaskan dendam pada Ni Anis. Kedua konflik itu benar-benar memiliki pusat cerita pada tokoh yang berbeda tetapi tetap memiliki benang merah.
Adat Bali terasa sangat kental. Apalagi diceritakan para tokohnya sering membaca kitab-kitab—terutama di sini dibahas Arjuna Wiwaha—dalam bahasa Kawi dan menerjemahkannya. Setting cerita ini adalah tahun 1800-an, menandakan kalau bahasa Kawi lebih kuno dari itu. Kita dapat belajar sedikit bahasa Kawi dari buku ini.
Akhir dari cerita ini tidak terlalu istimewa, tetapi seluruh ceritanya berkesan. Anak Agung Pandji Tisna membuat para tokohnya begitu manusiawi. Bisa khilaf tetapi juga bisa menjadi baik kembali, membuat para karakternya lebih bisa diterima secara lapang dada—bahwa memang manusia seperti itu, sebentar baik tetapi esok khilaf dan sebaliknya.
Selain itu, membaca buku ini menyadarkan saya kalau budaya Sunda lebih dekat dengan budaya Bali ketimbang Jawa sehingga saya penasaran apa yang membuat hal ini terjadi. Apakah ini karena perang bubat atau ada faktor lain. Hmmm, menarik. Ini yang saya sukai dari fiksi sejarah. Membuat kita penasaran dengan apa yang sebenarnya saat itu terjadi.
Sampai di sini dulu ulasannya. Sampai jumpa di review buku selanjutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar